Social Icons

Rabu, 07 Desember 2022

Kaitan Peran Pendidik dalam Mewujudkan Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada Murid-muridnya dengan Paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) di Sekolah

Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.  Walaupun pendidikan hanya dapat ‘menuntun’, akan tetapi manfaatnya bagi hidup dan tumbuhnya anak-anak sangatlah besar.  Jika terdapat anak tidak baik, maka anak tersebut perlu mendapatkan tuntunan dalam pendidikan agar semakin baik budi pekertinya.  Filosofi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara menyebutkan bahwa dalam proses menuntun, diri anak perlu merdeka dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Guru memberikan ‘tuntunan’ agar murid dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. 

Sementara itu, tujuan pendidikan nasional telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana Pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. 

Kedua hal tersebut menjadi pedoman pendidikan di Indonesia yang dicetuskan dalam Profil Pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila disini berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya yang harus dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil tersebut menjadi tidak bermakna. Keenam dimensi itu adalah (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; (2) Mandiri; (3) Bergotong-royong; (4) Berkebinekaan global; (5) Bernalar kritis; dan (6) Kreatif.

Guru bukan Kepala Sekolah, namun visi seorang guru memiliki makna yang kuat menghubungkan hati lebih banyak pihak hingga kemudian mengundang upaya kolaboratif demi mewujudkan. Visi seorang guru harus dapat di-amini semua pihak karena sangat jelas keberpihakannya pada murid. Memiliki visi tentang pertumbuhan murid menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru. Visi yang diharapkan terwujud pada murid di masa depan. Visi mengenai murid menjadi bintang penunjuk arah bagi guru dalam menentukan program dan strategi pembelajaran.

Tanggung jawab saya sebagai seorang guru penggerak memiliki peran untuk mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Peran ini memunculkan harapan bahwa ada hal besar yang diharapkan dapat dicapai di masa depan.  Guru Penggerak perlu mengartikulasikan harapan besar mengenai dirinya, murid, rekan kerja, sekolah dalam kalimat-kalimat yang sifatnya pribadi, sehingga paling tidak dapat menggerakkan hatinya, menyemangati dirinya, di tengah jatuh-bangun perjuangannya kelak.

Saya memimpikan murid-murid yang  berprofil pelajar pancasila (beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif) dan inovatif.  Saya percaya bahwa murid adalah pusat pembelajaran yang memiliki potensi dan aset sendiri yang unik dituntun dan diarahkan agar hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Di sekolah, saya mengutamakan pembelajaran berpusat pada murid sesuai profil pelajar Pancasila dengan segala potensi dan aset murid yang unik.  Murid di sekolah saya sadar betul bahwa profil pelajar Pancasila merupakan karakter yang harus dimiliki untuk menjawab tantangan zaman.  Saya dan guru lain di sekolah saya yakin untuk mewujudkan murid yang berprofil pelajar pancasila dapat dilakukan dengan pembelajaran yang berpusat pada murid, konstekstual dan menyenangkan serta melibatkan alam, sosial dan budaya sekitar. Saya dan guru lain di sekolah saya paham bahwa untuk mewujudkan pelajar profil pancasila harus didukung oleh lingkungan belajar yang memfasilitasi kodrat zaman dan lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif untuk pembelajaran.

Untuk dapat mewujudkan visi dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Guru Penggerak dapat berkontribusi dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila pada muridnya di sekolah menggunakan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA).  IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan lagi. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah impian dan visi setiap warga sekolah. 

IA merupakan salah satu model manajemen perubahan di lingkungan pembelajaran, baik itu di kelas maupun sekolah. Tahapan IA dalam bahasa Indonesia disebut dengan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi). BAGJA adalah gubahan tahapan Inkuiri Apresiatif sebagai pendekatan manajemen perubahan. 

Langkah-langkah dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi berdasarkan tahapan BAGJA dimulai 

  1. Buat Pertanyaan Utama (Define), merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. 
  2. Ambil Pelajaran (Discover), mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. 
  3. Gali Mimpi (Dream), menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. 
  4. Jabarkan Rencana (Design), merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. 
  5. Atur Eksekusi (Deliver), memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan Bapak/Ibu ajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

Kekuatan BAGJA ada pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan, dan kebersamaan. BAGJA mewujud menjadi pengalaman kolaboratif yang apresiatif dan bermakna bagi peningkatan kualitas belajar murid di sekolah. Pertanyaan itu akan membawa komunitas sekolah untuk berefleksi, menggali lebih dalam hal-hal yang bermakna, untuk kemudian diinternalisasi dan dijadikan sebagai bahan perbaikan-peningkatan dalam menjalankan perubahan demi perubahan.

Berdasarkan uraian di atas saya sebagai guru penggerak mempunyai VISI mengenai murid di masa depan yang saya gagas adalah mewujudkan murid yang berprofil pelajar pancasila (beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif) dan peduli pada lingkungan alam sekitar melalui pembelajaran yang menyenangkan berpusat pada murid dengan didukung lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif.

Untuk mewujudkan visi tersebut, saya membuat salah satu prakarsa perubahan tentang mengembangkan bernalar kritis melalui pembiasaan literasi. Diharapkan dari prakarasa perubahan tersebut kegiatan siswa dalam pembiasaan literasi yang dilakukan lebih terarah dalam mengembangkan bernalar kritis sehingga terbentuk kebiasaan-kebiasaan baru yang dapat mengembangkan bernalar kritis.


Selasa, 08 November 2022

Kesimpulan dan Refleksi Pengetahuan dan Pengalaman Baru yang Dipelajari dari Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara (1936) pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk kehidupan anak-anak, baik lahir maupun batin. Pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Meskpun pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup dan tumbuhnya anak-anak, tetapi pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak. Pendidikan anak juga berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.

Pada dasarnya guru hanya bisa menuntun, memberi contoh, membangun semangat dan memotivasi anak seperti semboyan Ki Hajar Dewantara “ Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani”.

 

Menguasai diri merupakan tujuan pendidikan dan maksud keadaban. Banyak watak biologis tidak dapat lenyap dari jiwa manusia. Jika kecerdasan budi yang dimiliki orang tersebut baik dan kokoh, maka dapat mewujudkan kepribadian dan karakter jiwa yang berazas hukum kebatinan, sehingga ia selalu dapat mengalahkan nafsu dan tabiat-tabiatnya yang asli dan biologis.

Cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan tetapi pada dasarnya cara tersebut dapat dibagi seperti berikut:

1. Memberi contoh (voorbeld);
2. Pembiasaan (pakulinan, gewoontervorming)
3. Pengajaran (wulang-wuruk, leering)
4. Perintah, paksaan dan hukuman (regearing en tucht);
5. Tindakan (laku, zelfberheersching, zelfdiscipline);
6. Pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving)

Umur anak didik dibagi menjadi 3 masa, masing-masing dari 7 atau 8 tahun (1 windu): 
a) waktu pertama (1-7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak (kinderperiode); 
b) waktu kedua (7-14 tahun), yakni masa pertumbuhan jiwa pikiran (intillectueele periode); dan 
c) masa ketiga (14-21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti (sociale periode).

Sebelum saya mempelajari refleksi pemikiran pendidikan KHD, saya sebagai guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas lebih banyak memonopoli kegiatan, guru lebih aktif dari siswa. Saya beranggapan siswa tidak dapat memahami materi jika tidak saya jelaskan. Saya juga beranggapan bahwa siswa telah mencapai tujuan pembelajaran jika siswa telah menguasai kompetensi dasar yang dibuktikan dengan nilai melampaui KKM. Saya memberikan tugas tanpa mempertimbangkan perbedaan potensi siswa. Saya juga beranggapan bahwa pemberian sanksi kepada peserta didik dapat mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik

Setelah mempelajari refleksi pemikiran pendidikan KHD, terjadi perubahan pola berpikir dalam diri saya ketika melaksanakan pembelajaran di kelas. Saya mengubah pemikiran saya yang tadinya berpikir bahwa anak selembar kertas kosong ternyata tidak tepat, setiap anak lahir memiliki potensi sendiri-sendiri. Saya berusaha mengenali setiap potensi anak didik dan karakteristiknya yang berbeda-beda. Saya mengubah pusat pembelajaran, yaitu berpusat pada anak. Saya memberikan ruang, kesempatan, dan fasilitas seluas-luasnya kepada anak agar ia mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Saya sebagai pendidik, menempatkan diri saya sebagai fasilitator yang menuntun anak agar ia mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. 


Hal-hal yang coba saya terapkan agar kelas saya mencerminkan Ki Hajar Dewantara antara lain saya mencoba menciptakan suasana kelas yang menyenangkan serta sejalan dengan kodrat anak yang senang bermain. Saya mengkolaborasikan asiknya kebiasaan masyarakat di tegal dan permainannya ke dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya dengan melakukan kerja kelompok dalam nuansa moci (minum teh bareng) ketika pembelajaran berlangsung.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan murid yang berbudi pekerti yang baik, saya sebagai guru selain memberikan arahan dan pembinaan, saya memberikan teladan yang baik. Anak tidak hanya melakukan apa yang saya katakan, tapi anak dapat meneladani perilaku baik yang saya contohkan. Saya berusaha menerapkan semboyan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, dari atas saya bisa memberikan teladan bagi setiap anak didik saya, Ing Madyo Mangun Karso di tengah saya bisa jadi teman yang memberikan semangat, serta Tut Wuri Handayani dari belakang saya bisa memberikan dorongan moral serta semangat belajar.